Perkembangan Relegi Zaman Majapahit, Masih ada Hingga Sekarang dan Bisa Ditemui

Radargunungkidul.com – Gunungkidul selain kaya akan tempat wisata, juga kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu tradisi yang masih ada dan terjaga sampai kini yaitu Nyadran Kajat yang ada di Dusun Gunungbuthak, Desa Giri panggung, Kecamatan Tepus.

Nyadran adalah serangkaian upacara pembersihan makam leluhur yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, umumnya di Pedesaan. Nyadran berasal dari bahasa sansakerta sraddha yang artinya keyakinan.

Didusun yang dihuni sekitar 555jiwa bergama 100 % Islam ini tradisi Nyadran Kajat dari ratusan tahun lalu masih dijaga sampai sekarang.

Seperti pada umumnya, Nyadran Kajat merupakan prosesi pembersihan makam leluhur atau petilasan yang ada di Dusun tersebut oleh warga sekitar yang memiliki Kajat atau Nazar.

Dengan membawa sesaji kusus prosesi Nyadran Kajat biasanya dilakukan bagi warga yang memiliki panen melimpah atau hewan yang sembuh dari sakitnya dan bernazar akan Nyadran Kajat.

Sesaji yang dibawa yaitu Kembang, gambir, daun sirih utuh, gantal 2 (daun sirih dilinting diikat benang putih) tembakau, Sebagang rokok, kemenyan, dan air (kalo dulu air kendi). Ada juga yang membawa uang sesuai Nazar yang disebutkan namun biasanya tidak lebih dari Rp 5 ribu.

Sejak terbit fajar, setiap hari penanggalan jawa Senin pon bulan Syawal, bertepatan dengan bersih Dusun. warga yang memiliki Nazar untuk Nyadran akan berbondong – bondong datang ke sebuah petilasan yang disebut sebagai petilasan simbah Uruping Damar.

Prosesi yang dilakukan mulai dari membersihkan makam lalu menyiramkan air disusul menabur bunga di petilasan. Setelah itu pemilik Nazar akan menyampaikan nazarnya kepada Kaum atau juru kunci petilasan yang nantinya kaum tersebutlah yang akan meng ijabkan Nazarnya.

Juru kunci atau Kaum di Petilasan Mbah Uruping Ndamar sudah sampai pada generasi ke 4. Juru kunci pertama yaitu Mbah So sentono, ke 2 mbah So karto, pada generasi ketiga yaitu mbah So semito dan terahir Mbah Sarto Giyono (79) merupakan Juru kunci ke-4.

Setelah Nazar di sebutkan, Mbah Sarto akan membakar kemenyan sambil memanjatkan doa di petilasan tersebut.

“Ini merupakan tradisi dari nenek moyang yang sudah turun temurun,” kata mbah Sarto.

Salah satu warga yang sering melaksanakan Nyadran Kajat ialah Tuminem (70), setiap hasil panennya melimpah atau hewan yg dimilikinya sembuh dari sakit, Tuminem akan melaksanakan nyadran kajat di petilasan tersebut.

“Kambing saya dulu sakit, dan saya bernazar kalau kambing saya sembuh sedia kala, saya akan nyadran kajat Rp 5ribu di sini,” ujar Tuminem.

Setelah Prosesi Nyadran Kajat di petilasan rampung, pada sore harinya akan diahiri dengan kenduri di masing masing rumah pemilik Nazar dan di pimpin oleh kaum yang sama. (Agr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here