Dua Desa Masuk Kategori Rawan Pangan


Radargunungkidul.com – Pemkab Gunungkidul masih memiliki pekerjaan rumah (PR) mengimplementasikan program untuk pemenuhan ketersediaan pangan di berbagai daerah. Hal itu untuk mengantisipasi terjadiya rawan pangan.

Sampai dengan saat ini dari total 144 desa, masih ada dua desa rawan pangan meliputi, Desa Tegalrejo dan Watugajah Kecamatan Gedangsari. Di Gunungkidul, desa dengan kondisi ketidakcukupan pangan pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologi bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat terus berkurang.

Jika sebelumnya ada tujuh desa masuk kategori rawan pangan sekarang tinggal menyisakan dua desa saja. Tujuh desa yang telah dinyatakan bebas rawan pangan itu Banyusoco, Duwet, Grogol, Karangasem, Kenteng, Mertelu dan Wonosari.

Dan sekarang masih ada dua desa rawan pangan jadi PR Pemkab Gunungkidul. Kades Tegal rejo, Kecamatan Gedangsari Sugiman ketika dikonfirmasi membenarkan label rawan pangan yang melekat di wilayahnya.

“Musim tanam sekarang atau musim tanam kedua (MH2) di Tegalrejo tidak ada yang panen,” kata Sugiman saat dihubungi kemarin.

Dia menjelaskan, selain menyandang predikat desa rawan pangan, desanya juga rawan bencana. Kondisi geografis berupa lereng bukit memungkinkan terjadi tanah longsor ketika musim penghujan datang.

“Dan ada sekitar 9 hektare mengalami gagal panen di musim kemarau ini,” ungkapnya.

Akan tetapi di desanya mata pencaharian penduduk lebih banyak sebagai buruh harian lepas. Sisanya petani dan bekerja di perkebunan serta wiraswasta. Kembali ke penanganan program pengentasan rawan pangan saat ini ada program dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat.

“Prinsipnya mengurangi angka kemiskinan dan mengoptimalkan sektor pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengatakan, dari 144 desa, tinggal Desa Tegalrejo dan Watugajah masuk dalam kategori rawan pangan.

“Penetapan desa rawan ada beberapa kriteria. Selain dilihat dari jumlah penduduk miskin di suatu desa, indikator juga mengacu pada tingkat konsumsi dan daya beli di masyarakat,” kata Fajar Ridwan.

Dikatakan, penyelesaian masalah desa rawan pangan didorong dengan berbagai program guna mendukung pengembangan di sektor ketahanan pangan di dua desa. Targetnya adalah nol desa rawan pangan.

“Selain penanggulangan di dua desa, desa-desa yang sudah terbebas dari rawan pangan akan terus dilakukan pendampingan agar tidak kembali lagi masuk ke predikat itu,” ujarnya.

Dibagian lain, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan, Kecamatan Gedangsari dan Saptosari masuk sebagai wilayah termiskin di Bumi Handayani. Oleh karenanya, program pengetasan kemiskinan diarahkan ke dua kecamatan tersebut.

“Mulai dari program kesekatan, fasilitasi jamban sehat hingga upaya pengembangan di sektor UMKM,” kata Sri Suhartanto.

Total anggaran untuk penanggulangan kemiskinan mencapai Rp 64,8 miliar dan telah disedisiapkan oleh pemkab. Selain Gedangsari dan Saptosari,  kecamatan lain seperti Nglipar, Girisubo, Semin dan Playen masuk kategori miskin sehingga juga masuk dalam program penanganan. (Radarjogja)


Pengiriman tidak tuntasAda masalah sementara saat mengirimkan pesan Anda ke webradarjogja@gmail.com. Gmail akan mencoba ulang selama 47 jam lagi. Anda akan mendapat pemberitahuan bila pengiriman gagal secara permanen.PELAJARI LEBIH LANJUT


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here