Wong Tuwo Ora Urus, Anak Sendiri kok Dihamili

T

Ilustrasi (net)

Radargunungkidul.com – Aksi kekerasan seksual dengan korban anak dibawah umur kembali terjadi di Gunungkidul. Kali ini korbannya seorang pelajar, dan tersangkanya tidak lain adalah ayah tirinya sendiri warga Kecamatan Semin.

Kapolsek Semin AKP Haryanta mengatakan, peristiwa bejat tersebut terungkap saat korban mengeluh pada bagian perut kepada ibunya. Karena tidak lazim, ibu korban buru-buru membawa buah hati ke dokter.

“Setelah diperiksa oleh dokter diketahui pelajar tersebut tengah mengandung,” kata Haryanta saat dihubungi (11/3/2019).

Bak disambar petir, sang ibu langsung panik. Muncul pengakuan dari korban bahwa pelakunya tak lain adalah ayah tirinya sendiri. Tak mau pikir panjang, kasus tersebut langsung dilaporkan kepada kepolisian setempat.

“Dalam pemeriksaan, korban mengakui jika sudah tidak menstruasi sejak akhir Desember 2018,” ujarnya.

Berbekal laporan itu, kepolisian bergegas memburu pelaku berinisial SAD. Pelaku ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan berarti. Setelah diintrogasi, pelaku mengakui semua perbuatan bejat yang telah dilakukan kepada anak tiri.

“Jadi, tersangka ini sering main ke kamar korban. Lalu timbullah keinginan untuk menyetubuhi korban,” ungkapnya.

Kata Haryanta, modus yang dilakukan pelaku untuk memperdaya korban dadalah dengan cara akan dibelikan tas, sepatu hingga menambah uang jajan.  

Akibat perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 81 dan 82 UURI No 35 Tahun 2014 perubahan atas UURI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman minimalnya 5 tahun, paling lama 15 tahun. “Tersangka diamankan di mapolsek,” tegasnya.

Sementara itu, seorang warga setempat Hengki Sona mengutuk keras prilaku bejat yang diduga dilakukan seorang ayah kepada anak tiri.

Wong tuwo ora urus (orang tua tidak tau tau diri), anak sendiri kok dihamili,” kata Hengki.

Dibagian lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Sujoko mengaku terus melakukan upaya pencegahan kasus kekerasan perempuan dan anak.

“Tahun lalu ada 24 kasus. Kekerasan perempuan ada 9 kasus, dan anak 15 kasus. Sebanyak 15 kasus diantaranya  anak. Untuk kasus seksual anak ada 5 kasus, lainnya kekerasan fisik, psikis dan penelantaran,” kata Sujoko.

Menurut dia, data ini jauh menurun dibanding dengan tahun 2017, dimana  kasus kekerasan perempuan dan anak ada 40 kasus. Rinciannya, kekerasan anak ada 28 kasus, dengan jumlah kekerasan seksual mencapai 17 kasus. Sisanya kasus psikis 3 kasus dan penelantaran 8 kasus.

“Kami terus berupaya menekan dengan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melindungi anak. Mulai dari sosialisasi, pembentukan forum anak, dan kabupaten layak anak,” ujarnya. (eri/gun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here